| Yuk, Kenalan dengan Lampu Xenon atau HID |
|
|
|
| Written by http://otomotif.kompas.com/read/2012/02/07/776/Yuk.Kenalan.dengan.Lampu.Xenon.atau.HID.Bagian.1 |
| Saturday, 11 February 2012 22:04 |
![]() Cahaya yang dihasilkan lampu xenon (kiri) dan halogen (kanan). Masing-masing 35 dan 55 watt
Lampu utama atau depan yang digunakan pada mobil dan sepeda motor saat ini, jenisnya makin beragam. Paling banyak atau umum adalah filamen pijar dengan gas halogen (disebut lampu halogen). 35 Watt
Lampu HID dan LED dikenal irit energi dan menghasilkan cahaya jauh lebih terang. Kendati demikian, pemakaiannya masih kalah banyak dibandingkan dengan halogen. Penyebab, harga HID dan LED masih mahal. Semetara halogen, selain harganya jauh lebih murah, pemasangannya juga gampang.
Sebgai contoh, khusus HID sebagai lampu utama mobil (standar), hanya membutuhkan listrik 35 watt (juga ada 50 dan 55 watt dan bekerja dan bekerja pada tegangan 24 volt), sedangkan halogen 55 watt. Sedangkan sinar atau cahaya yang dihasilkan tiga kali lebih terang dibandingkan halogen.
Kendati demikian, untuk start, xenon memerlukan tegangan yang sangat tinggi, mencapai 23.000 volt, sedangkan halogen cukup 12 volt. Namun bila sudah menyala, tegangan yang diperlukan berkisar 80- 90 volt. Start Dingin Untuk start dingin, juga memerlukan arus (ampere) yang besar. Menurut, salah satu produsen lampu xenon asal China, Guangzhau Klarheit Technology Co. Ltd, untuk start dari dingin, diperlukan arus listrik 6,5 Ampere. Kalau sudah hidup, tidak sampai separo, hanya 3,2 Ampere. Sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk menyala dari dingin sampai normal 50 detik. Bila sudah panas, lampu akan hidup dalam 5 detik. Kombinasi start tegangan tinggi dan arus yang besar, membuat lampu xenon (kendati tipe plug & play), tidak bisa dipasang begitu saja. Apalagi, jika kabel yang digunakan lampu asli (halogen) berukuran kecil. Untuk ini, diperlukan rangkaian kabel lain agar tidak merusak sistem perkabelan lampu asli mobil (akan dibahas pada tips dan trik’s)
Seperti Busi Seperti neon, lampu xenon tidak bisa langsung menyala begitu kontak di-on-kan. Lampu butuh beberapa detik sampai cahayanya normal. Karakteristik tersebut berlawanan dengan lampu halogen, langsung berpijar dengan pencayahaan maksimal begitu dialiri arus listrik. Nah, dengan tambahan, komponen tersebut, harga satu unit lampu HID menjadi lebih mahal Pengaturan warna cahaya diukur dengan satuan derajat Kelvin. Makin tinggi derajat Kelvin (suhu), makin menyilaukan cahaya yang dihasilkan. Sebagai contoh, xenon dengan warna cahaya 10.000 Kelvin diharam pada negara tertentu karena sangat berbahaya. Begitu juga dengan 12.000 Kelvin. Umumnya, lebih banyak menggunakan warna 6.000 Kelvin atau lebih rendah lagi, misalnya 5.000 Kelvin yang dianggap netral.
Peraturan Menurut Lily Hernawan, Direktur CV Sampurna Part Niaga, Importir dan Distributor lampu merek Autovision yang gencar memasarkan HID, di beberapa negara lampu ini dilarang. “Kecuali kalau lampu tersebut bawaan asli mobil,” jelasnya. Dijelaskan, warna lampu yang diijnikan dibatasi maksimal 8.000 Kelvin yang menghasilkan warna putih atau seperti sinar matahari di siang hari. Kendati demikian, yang paling banyak menurutnya adalah 6.000 Kelvin yang menghasilkan cahaya putih.
Selain warna, masalah lain dari lampu xenon adalah bila digunakan sebagai pengganti lampu H4.Pada halogen H4, satu lampu berfungsi sebagai lampu dekat dan jauh. Dalam hal ini, satu lampu mempunya dua filamen. Karena itu, bola lampu atau bohlam, cukup punya dua terminal (kalau sisi lampu dihubungkan ke massa atau ground) atau tiga terminal.
Nah, pada lampu xenon hal tersebut tidak bisa dilakukan. Pasalnya, kalau lampu halogen begitu tombol “ON”, lampu langsung hidup. Untuk lampu xenon membutuhkan waktu 50 detik dari start dingin dan 5 - 10 detik untuk start ulang (panas).
Kondisi tersebut jelas tidak bisa untuk digunakan untuk lampu mendahulu “passing” yang diaktifkan sekejap. Begitu bila satu lampu dimanfaatkan untuk lampu jauh.
AutoLeveling Bi-Xenon
Bi-xenon merupakan istilah lampu xenon dengan dua fungsi, khusus H4, untuk jarak dekat (standar) dan jauh. Untuk mobil yang dilengkapi dengan autoleveling, pengaturan dilakukan secara otomatis oleh mekanis yang berada di luar unit lampu, untuk mengubah arah atau jarak tembak (sorotan). Masalahnya, autoleveling sendiri mahal karena harus dilakukan dengan sistem kontrol lainnya. Untuk menghindari penggunaan autoleveling namun tetap bisa sebagai lampu depan H4, produsen punya dua metode. Pertama, menggabungkan lampu xenon (untuk jarak dekat atau Lo) dengan lampu halogen (jarak jauh atau sinyal untuk mendahului, dim). Disebut juga xenon H4Lo. Sedangkan versi kedua atau terbaru, cukup menggunakan satu lampu saja, disebut teleskopik, H4 Lo/Hi.
Kombinasi Penggabungan dua jenis ampu, khusus halogen untuk dim dan jarak jauh karena mudah dihidupkan. Bandingkan dengan xenon, dari dingin 50 detik atau 5 detik bila sudah panas. Kombinasi ini cukup membantu bila xenon yang digunakan warna putih atau derajak Kelvinnya tinggi. Misalnya 6.000 ke atas. Pada saat hujan atau berkabut, xenon 6.000 Kelvin memantulkan cahaya atau tidak tembus. Sedangkan lampu halogen dengan sinyar yang aka kekuningan, bisa menerobos kabut atau hujan. Teleskopik Versi terbaru, hanya menggunakan satu bohlan xenon saja atau xenon Lo/Hi. Agar bisa berfungsi untuk lampu jauh dan dekat (dim), teknik yang dilakukan, bohlam dibuat bisa bergerak maju-mudur di rumah (tempat pemasangan) atau teleskopik. Untuk ini, di pangkal lampu, dipasang solenoid atau magnet yang membuat kapsul lampu bisa bergerak maju-mundur. Mirip dengan kerja senter pijar. Untuk mendapat fokus cahaya atau sebalikan, tinggal putar kepalanya. Dengan menggerakan bohlam, maka arah sorotan akan berubah. Tepatnya, begitu berfungsi untuk lampu jauh atau dim, kontrol lampu yang mengaktifkan solenoid atau magnet akan bekerja. Sebaliknya, pada kondisi biasa, solenoid juga non-aktif.
Masalahnya, karena harus dilengkapi dengan solenoid ini, pangkal lampu jadi lebih panjang dan diameter juga lebih besar. Kondisi ini, agak susah memasangnya, khusus bila bagian belakang lampu dilengkapi karet penutup kedap air. Kalau sudah begini, diperlukan sedikit modifikasi.
Kelemahan dari tipe ini, kemampuan solenoid harus bisa bekerja dengan cepat. Produsen dari China biasanya mengklaim solenoid bekerja dalam 0,2 detik. Dalamm hal ini, pegas untuk mendorong lampu kembali ke posisi semula juga harus kuat atau tidak boleh “nyangkut” Biasanya kalau lecet dipengaruhi oleh magnet, pegas tidak bisa memanjang. Penyebab pegas macet, lainnya karena ing melalui jalan tidak rata (guncangan) atau saat mobil direm mendadak. |
| Last Updated on Saturday, 11 February 2012 22:23 |



















